Latest posts

Archived posts

BRIN Manfaatkan Zeolit Indonesia untuk Menekan Cemaran Logam Berat

Jakarta - Humas BRIN. Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan purwarupa teknologi adsorben berbasis zeolit alam sebagai material lokal untuk membantu menurunkan kandungan logam berat dalam air. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, teknologi tersebut berpotensi dikembangkan untuk mendukung pengolahan air di sektor pertambangan, industri, serta sistem filtrasi.

Peneliti Ahli Madya PRSDG BRIN Rizka Maria mengatakan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari hasil penelitian terhadap sejumlah sumber air di kawasan pertambangan, industri, dan gunung api yang menunjukkan adanya kandungan logam berat.

“Dari beberapa penelitian yang kami lakukan di beberapa sumber air di daerah pertambangan, daerah industri, dan daerah gunung api, kami menemukan logam berat pada beberapa sumber air,” ujar Rizka dalam sesi Temu Bisnis dan Paparan Hasil Riset dan Inovasi pada rangkaian BRIN Goes to Industry 5 bertema “Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (28/7).

Untuk mengembangkan material adsorben, tim peneliti mengkaji sejumlah bahan galian yang tersedia di Indonesia, antara lain zeolit, bentonit, dan dolomit. Berdasarkan hasil pengolahan dan pengujian laboratorium, zeolit dipilih sebagai material utama karena menunjukkan kemampuan adsorpsi terhadap sejumlah logam berat yang diuji.

“Kami berdiskusi dengan beberapa tim dari PRSDG untuk memanfaatkan sumber dari bahan galian yang banyak terdapat di sekitar kita, antara lain yang sudah kami teliti yaitu zeolit, bentonit, dan dolomit,” kata Rizka.

Zeolit alam diaktivasi melalui kombinasi proses fisika dan kimia. Tahap preparasi diawali dengan penghalusan dan pengayakan batuan zeolit hingga berukuran ≤250 mesh. Selanjutnya, zeolit dikalsinasi menggunakan furnace pada suhu 450 derajat Celsius selama dua jam untuk menghilangkan air teradsorpsi dan pengotor organik. Aktivasi kimia kemudian dilakukan menggunakan larutan HCl 0,5 M selama empat jam pada suhu 80 derajat Celsius untuk menghilangkan pengotor mineral dan meningkatkan luas permukaan zeolit. Zeolit kemudian dicuci berulang menggunakan akuades hingga mencapai pH netral sekitar 7 dan bebas ion klorida.

Setelah melalui aktivasi fisika dan kimia, zeolit teraktivasi memiliki porositas yang meningkat, bebas pengotor mineral, serta kapasitas adsorpsi yang optimal. Purwarupa yang dihasilkan berbentuk serbuk halus berwarna putih krem.

Berdasarkan pengujian laboratorium pada kondisi optimum, adsorben zeolit teraktivasi menunjukkan efisiensi adsorpsi hingga hampir 100 persen untuk Pb²⁺, 99,98 persen untuk Cr³⁺, dan 99 persen untuk Cu²⁺.

“Melalui kombinasi aktivasi fisika dan kimia, zeolit ini mampu menurunkan logam berat seperti Pb, Cr, dan Cu,” ujar Rizka.

Selain menunjukkan efisiensi adsorpsi yang tinggi dalam pengujian laboratorium, teknologi tersebut memanfaatkan zeolit sebagai material lokal yang tersedia melimpah di Indonesia. Ketersediaan bahan tersebut menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan teknologi berbasis material dalam negeri.

Rizka menambahkan, teknologi tersebut memiliki proses aktivasi yang sederhana dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Dengan karakteristik tersebut, purwarupa adsorben zeolit memiliki peluang untuk dihilirisasi melalui kerja sama dengan mitra industri.

“Kami menawarkan teknologi ini sebagai solusi pengolahan air yang efektif, ekonomis, mudah dioperasikan, ramah lingkungan, serta memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan di hilirisasi industri,” kata Rizka.

Peluang pengembangan teknologi tersebut antara lain melalui lisensi kepada mitra industri, pelaksanaan pilot project di kawasan pertambangan dan instalasi pengolahan air, serta pengembangan media adsorben untuk sistem filtrasi air rumah tangga, komunal, dan industri.

Pengembangan produk juga berpotensi mendukung penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) serta program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), khususnya di sektor pertambangan.

Teknologi tersebut berpotensi dikembangkan bersama industri pertambangan, industri pengolahan air bersih dan air limbah, industri mineral dan material, serta produsen filter dan sistem filtrasi air. Peluang kolaborasi juga terbuka dengan PDAM atau BUMN penyedia air, pemerintah daerah dan instansi lingkungan, serta startup dan UMKM di bidang teknologi lingkungan. (jnn)

https://brin.go.id/news/129642/brin-manfaatkan-zeolit-indonesia-untuk-menekan-cemaran-logam-berat

Posted in: Zeolite Stone

Leave a comment